Entah Kapan dan Dimana

Selalu saja menjadi bahan perbincangan antara si kanan dan si kiri. Entah aku memihak yang mana? Hampir setiap hari perbincangan ini tak pernah berhenti, bahkan sering 24 jam terus menerus berurutan. Iya benar 24 jam, dalam mimpi pun kadang selalu hadir yang membuatku serasa tak tidur selama 24 jam itu.

Terkadang ingin cukupkan saja pergulatan ini, dan sesekali merasakan bebasnya tanpa pemikiran. Tapi apakah itu baik? apakah itu seharusnya? Bahkan sampai menjadi pendiam pun sebenarnya di dalam diri sudah saling teriak. Si kanan bilang A si kiri bilang V. Saling susul-menyusul kalau mengenai pendapat.

Manakah yang lebih baik? meniadakan dengan bakal tertinggalnya oleh zaman dan waktu. Atau mempertahankan dengan resiko menambah data di dalam otak. Ah, entahlah sampai menulis inipun penuh dengan kebimbangan dan pertanyaan. A, B, C, D . . ., Z, sampai kode-kode alay pun akan jadi opsi kalau itu mungkin.

Haruskah kubagi bersamamu? bersama temanmu? atau cukupkah area ini? semakin membuatku terus berfikir dan berfikir tentang berbagai pertanyaan itu?

Apakah bermuara di satu tempat nantinya? Apakah dirimu pemecahnya? atau tinggalkan saja?

Ah semakin penuh saja otak ini. Mungkin kucukupkan saja segala itu, biar kutebar pada temaram malam agar terjawab dengan sendirinya. Entah kapan dan dimana.

Beri Kami Itu

Tiada sesal ketika dalam dekap
Tiada daya ketika dalam harap
Tiada gelap ketika dalam malamMu
Tiada sesat ketika lurus

Mendebu dibawahMu
Meraja di alamMu
Harap dari setiap kami

Belaian cintaMu
Pukulan cintaMu
beri kami itu

Malang 16/10/12

Perjalanan menggapai misi mulia



Alkisah di sebuah tempat yang bisa dinamakan padang pasir, terlihatlah beberapa pemuda sedang melakukan perjalanan. Ya walaupun kalau diperhatikan lagi tak semuanya pemuda. Beberapa pemuda tadi melakukan perjalanan untuk menyelesaikan misi mulia mereka, misi yang hanya mereka yang bisa menyelesaikannya.
Perjalanan itu dimulai pada temaram malam, dan hanya ditemani 2 sumber cahaya dari senter mungil serta bintang. Masa pencarian yang cukup panjang menelusuri lembah, bukit, rawa, bekas sungai, bahkan pasir hisap. Sangat mengerikan bukan kalau dibayangkan? begitulah mereka membayangkannya diawal. Bagaikan berada di grand canyon yang mempunyai pasir hisap.
Beberapa pemuda ini sempat gugur, namun karena mengemban misi yang mulia perjalanan pun dilanjutkan. Sekali lagi beberapa pasir hisap serta jurang berhasil dilewati, walaupun sempat terperosok tapi tak sampai guling-guling seperti di anime-anime.
Ditengah guyuran sinar dari bintang pemuda-pemuda tadi melangkahkan kakinya setapak demi setapak mendekati tujuan mereka. Walaupun banyak kilatan cahaya dikanan kiri, mereka tak menghiraukannya, dan terus maju kedepan. Tanpa api, tanpa peta, serta tanpa pengalaman. Niat suci merekalah yang membuat mereka bertekat untuk segera menyelesaikan misi mulia mereka.
Dan akhirnya menjelang subuh mereka telah berhasil menaklukkan jurang serta pasir hisap yang menghadang mereka, dengan refleks serta koordinasi yang sigap pasir itu pun bukan halangan.
Setelah istirahat untuk mendirikan sholat, perjalanan dilanjutkan…
Sekarang mulai banyak personel yang berguguran, namun ada beberapa pangeran berkuda rela membagi kudanya untuk mendukung perjalanan mereka selanjutnya. Yah walaupun lewat penawaran yang sengit untuk menentukan harga. Setelah harga dinyatakan sah, pangeran itu pun mengantarkan beberapa personel untuk mencapai puncak.
Dan akhirnya. . .
Perjalanan masih berlanjut. Masih banyak tanjakan dan rintangan yang harus ditaklukkan.
Dan akhirnya lagi. . .
Perjalanan terhenti oleh beberapa kilatan cahaya, atau zaman sekarang sering dibilang lampu blitz.
Dan akhirnya lagi lagi . . .
Kilatan itupun terus menghantui mereka. Yah begitulah panjangnya rintangan yang mereka hadapi untuk mencapai puncak kejayaan.
Mulai terlihat aura kepuasan terpancar dari para pemuda tadi setelah berhasil menyelesaikan misi mulia mereka, setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan.
Dan akhirnya, poto-poto untuk kesekian kalinya.

Ini kisah nyata yang diambil dari perjalanan ke bromo oleh beberapa anak FLP bareng saya, yang nulis nih cerita.

#Rohis Memang Nyebelin

#Rohis memang nyebelin, apalagi #Rohis tak suka rokok. Jadinya bakal sepi tuh para pedagang rokok, terutama produsennya.

#Rohis memang nyebelin karena #Rohis suka sedekah. Jadi gak ada ladang kerjaan lagi tuh para rentenir.

#Rohis memang nyebelin karena #Rohis jauh dari narkoba. Jadi para pedagang narkoba bakal kehilangan pelanggan.

#Rohis memang nyebelin karena #Rohis seneng saling ngingetin. Jadi yang korupsi atau klepto bakal males sama yang namanya anak #Rohis, cerewet banget sih.

#Rohis memang nyebelin karena #Rohis tak suka buka aurot. Jadi perusahaan fashion dunia bakal tutup. Itu tuh yang bajunya cuma kaya saringan santan.

#Rohis memang nyebelin karena #Rohis tak suka bohong. Jadi tak ada calo atau tipu-tipu lainnya dijalanan. Apalagi koruptor bakal panas dingin kalau ada #Rohis, nyaring banget suaranya.

Semesta

Dirimu indah
ketika diatas sajadah
menatap dengan tengadah
tentang apa yang entah

Mengharap semua tentang cita
Yang sudah tak lagi jelita
Sudahkah kau cinta
tentang apa yang kau cita

Sudahlah,
hidup ini memang cerita
tentang semesta
yang sudah ditata
dan menunggu tampak para anggota

11/10/2012

Rindu

Halus tanganmu
anugerah bagiku
buatku termangu
akan indahnya imajinasi semu

akankah kita menyatu?
sungguh aku sangat rindu
akan tali kasih yang saling berpadu

ku yakin tentang itu
bahwa siapa yang suci perilaku
akan saling menyatu
di balik surga-Mu

i.b.u
11/10/2012


 

Copyright © Mahya. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com