Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tugas Word Challenge FLP Malang - Bianglala



Ide Pokok : Muncikari – Semang – Girik

Tinggal duduk cantik. Memberikan girik. Tombol ku klik. Lalu mengulanginya lagi. Hampir mirip dengan dahulu. Tidur berpakaian minim, wajah olesi krim, dan sedikit desahan intim. Mengulanginya lagi dan lagi. Sampai habis stok para lalim.

Tapi sekarang sungguh beda. Aku bisa lepas menyampaikan senyum setulusnya. Dan sesekali berbincang dengan mereka, para pelanggan. “Ada hadiah mas bagi yang bisa menemukan ‘kata emas’. Dan semuanya ingin bisa melihat seluruh taman ini.” Jelasku pada pria di hadapan yang terus diseret ceweknya.

Bianglala ini sudah seperti ritual wajib. Bukan hanya bagi mereka yang baru putus. Melainkan juga karena hadiah besar untuk penemu ‘kata emas’ - Serangkaian huruf emas yang tersebar di seluruh taman. Karena itulah bianglala jadi wisata paling ramai.

Akhirnya lelaki itu hampir sampai puncak. Tepat di ujung, bianglala berhenti. Semua teriak. Memang sudah niatku. Bukan dengannya, namun sampingnya. Di tempat sebebas ini, aku masih harus sembunyi. Kubiarkan saja mereka selama mungkin di sana. Teman sialan!

Aku dijadikannya anak semang. Hanya untuk foya-foyanya? Mati panik sana di ketinggian. Sampai sepuluh menit pun tak segera kujalankan. Biar sudah, semua marah padaku. Ubun-ubun sudah mengalahkan terik matahari.

Gadis Bermata Sayu



Seseorang berwajah putih, bermata sayu, dengan jilbab ungu yang membuatku seperti ini. Bangun lepas subuh, mandi dengan air beku malang, lalu duduk manis tepat depan perpustakaan kampus yang belum buka. Hanya berteman bangku-bangku besi yang berjajar panjang. Aku duduk paling ujung, agar pandanganku luas. Tak ingin kehilangan kesempatan menemui gadis bermata sayu itu.
Lepas satu jam. Mata sayu itu belum tampak. Beberapa mahasiswa mulai ramai. Memarkir sembarang kendaraan mereka di sisi jalan. Yah, kampus ini memang kekurangan lahan, atau kelebihan orang? Haha. Mereka terburu-buru sampai terbirit-birit. Sepertinya mereka bangun kesiangan.
Tiga jam kuhabiskan dengan duduk. Hampir seluruh tempat duduk penuh. Tapi mata sayu itu masih belum terlihat. Kuedar pandang ke kerumunan mahasiswa di kolam belakangku. Bukan. Kulempar jauh pandang sampai seberang. Tch. Hanya satpam yang sibuk dengan kopi dan ketawa.
“Permisi mas...”
Mataku berbinar. Kutengok langsung ke belakang. Aku ingin segera menyap... Ah sayang sekali. Kukira gadis bermata sayu itu. Ternyata hanya mahasiswi yang ingin menggunakan colokan di sampingku. Dugaanku dia anak baru, dilihat dari wajah SMA-nya.
“Iya, silahkan.”
Banyak orang lalu lalang. Lalu lintas mulai padat merayap. Ini tandanya sudah siang. Aku pulang. Sekarang giliran jaga warnet. Hari ini mungkin cukup. Yah, semoga esok ada hasil.
Lima hari sudah rutinitas ini kujalani. Bosan mendera. Belum juga berhasil kutemui gadis bermata sayu itu. Sejak pertama bertemu dengannya tanganku berubah jadi batu. Kaku. Selalu ada yang kurang dari lukisanku. Dan salah satunya adalah lukisan gadis itu.
***
Ini berawal lima hari sebelumnya. Di acara ulang tahun kampus. Mereka mengadakan lomba lukis sebagai salah satu acara parade seminggu penuh. Ini hal baru di sini, karena sebelumnya hanya di isi konser. Paling-paling hanya satu dua yang menarik. Salah satunya wayang kulit. Tapi sekarang mereka berpihak padaku. Selain wayang kulit, mereka mengadakan lomba lukis. Membuatku semakin bergairah datang ke kampus.
Tapi saat hari H, di mana semua peserta di uji untuk melukiskan kampus dalam waktu delapan jam. Membuatku kelabakan. Deadline. Yah, deadline itu musuh besarku. Kepalaku buntu ketika harus dibatasi. Baik waktu maupun tema.

Bro, ketika denger UB. Yang kau pikirin apa?

Kukirim pesan ke temanku.

Macet lah.

“Hmm, macet ya? Okelah....”
Kuarahkan kuas pada kanvas. Kuarahkan pula mata mengikuti kuas. Tapi tunggu... di balik kanvas. Kau pernah saat kecil. Dipaksa ikut acara nikah. Dipaksa menyalami orang tua yang tak kau kenal. Hanya untuk basa-basi. Lalu kau melihat pojok souvenir. Ada boneka adat di sana. Tak lama kemudian kau asyik dengan boneka adat di duniamu sendiri. Itu yang kualami sekarang kawan. Mataku tertawan. Ada sosok yang melukis senyum di wajahku. Menawan mataku hingga tak ingin berpindah haluan darinya. Namun mengubah seluruh haluan kepadanya, termasuk lukisanku. Aku melukisnya, kawan.
Kumulai dengan sungging senyumnya yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Menghias senyum teduhnya, kulengkapi dengan paras sendunya. Aku tersenyum. Dan satu yang paling aku idamkan dari lukisan itu. Mata sayunya. Ya tatapan sayu itu telah menawan hati. Tetapi lepas delapan jam hanya wajahnya saja yang kulukis. Pun tanpa pewarna yang lengkap. Wajahnya saja tak pernah selesai kugambarkan, selalu ada yang kurang. Apalagi menghiasi keseluruhan menjadi karya yang utuh. Kuserahkan saja lukisan itu ke dewan juri.
Biarlah lukisan itu tak selesai. Kini ada yang nyata di depan mata.
“Ada apa di balik temaram lampu jalan?” malam itu aku pun memberanikan bertukar sapa. Mengulur salam.
“Oh, maaf... lukisanku ya?” Ia kaget.
“Yap... apa ada kenangan dengan yang dahulu?” Oke... langkah pertama.
“Karena kita baru menilai sesuatu ketika adanya mulai terbatas. Termasuk cahaya.” Wajahnya mulai serius.
“Tepat. Seperti seorang berparas sendu di tengah kesangaran para lelaki. Haha”
Pembicaraan kami mulai larut. Apalagi ketika mata saling berpapasan. Tapi sayang, sift jaga menutup pertemuan itu. Aku pulang, tapi ada yang tertinggal.
Dan itulah yang kucari sampai sekarang.
***
Itulah yang kucari sampai hari kelimabelas. Tapi belum juga kutemukan gadis bermata sayu itu. Bahkan namanya pun aku lupa memintanya. Penat. Apa ini hanya pemanis semata? Seperti sedia kala? Yah, lebih baik kuterbangkan angan yang tak sampai itu. Biar saja angin mengemasnya ke dalam sebentuk kenangan. Salah satu angin itu adalah berlibur.
Berlibur bersama kawan sepermainan menjadi rutinitasku. Setidaknya sebulan sekali. Berhubung budget kita tipis, jadilah Alun-alun Batu tujuan refreshing kami kali ini. Walaupun begitu, tempat ini masih memberikan suasana wisata mahal. Cukup keluar uang dua ribu untuk parkir, ditambah dua ribu untuk kopi. Kami bisa menikmati jalanan serta taman yang ramai kerlip lampion. Dan terlebih, ada rasa rumah di sini.
Tentu aku juga membawa buku sketsa, peralatan wajib. Malam di sini menjadi salah satu candu setelah renovasi. Kau bisa melukis banyak emosi dari segala umur di sini. Malam atau siang sama saja. Akan selalu ramai. Aku pamit dari rombongan yang di seberang jalan, mereka paham. Aku memilih duduk di depan air mancur. Ada riang anak-anak yang bermain air di sini, tak lupa muda-mudi saling memadu kasih.
Malam di Batu bisa membuatmu ketagihan untuk selalu datang. Mereka menawarkan eksotisme parade lampu di tengah sejuk hawa pegunungan. Apalagi ketika kau bisa melihat arsitektur alami itu dari ketinggian. Oh ya... di Alun-alun ini kau bisa menyaksikannya juga. Ada bianglala yang menjadi ikon Alun-alun Batu. Karena memancarkan cahaya paling terang. Ketika dari kejauhan, kau lihat kerlip terang memancar. Itulah bianglala ini. Mungkin aku harus mencobanya lagi. Bukankah melihat dataran yang luas bisa membuat hatimu lebih luas?
“Pak, tunggu...!!” Aku berteriak dan sedikit berlari-lari kecil. Bianglala itu sudah mau jalan.
Ah... untung saja aku bisa mengejar dan penjaga itu sabar menunggu. Ada orang lain di dalam.
“Mas, berdua sama yang lain ya? biar imbang.” Ucap penjaga bianglala.
“Iya deh pak...” Sebenarnya aku ingin menikmati ini sendirian. Tapi ya sudahlah, namanya juga wisata umum, murah lagi. “Permisi... eh!!” Gadis itu....

Terbang

   Undangan ada di tangan, pink beramu biru muda. Pertama pandang, sungguh megah adanya. Tapi, pandangan pertama memang sering menipu, wajah sering beda sekali dengan hati. Wajah lipatan itu memang cantik, aku terpesona. Tapi, isinya malah membuatku terpaku. Apa benar yang kulihat, Dib? Yang tertera itu? Namamu.... Aku mungkin seperti memegang bara api, membakar tanganku, mengacak otak, dan yang paling parah, panas itu menembus ulu hati. Hancur.... Kau tak sedang jahil padaku kan, Dib? 
   Aku lelah. Akankah seperti ini akhirnya? Kuletakkan surat itu di atas tumpukan buku yang mulai menggunung. Aku tersenyum sinis. Sejak kapan aku suka baca buku? Tapi, lihatlah Dib! Jika kau ingin ke perpustakaan, kau cukup ke rumahku. Berjejer rapi novel, buku psikologi, motivasi, sampai buku agama. Belum semua kubaca. Yang sudah kubaca pun itu kupaksa. Agar aku tak terlalu banyak berkata “oh...” di depanmu. Lebih cair.
   Apa ini salahmu...? Ini salahku yang terlalu dalam mencintai.
   ***
   Pernah kau berlibur ke Lombok. Lalu dengan nada mengejek, kau pamerkan kemolekan pantai sana, bersih, sepi, luas, bagai surga tersembunyi, tak lupa kau singgung Rinjani. Mana ada yang tak iri? Apalagi itu dari mulutmu. Sejak kata ejekan pertamamu saja, aku sudah membayangkan berada di sana bersamamu. Tapi kau tak peka. Aku sebal. Terlebih ketika kau kata sedang menikmati plecing kangkung tepat di bibir pantai. Kalau ada kata di atas sebal, pasti sudah aku pakai. Tapi aku senang bisa berbincang denganmu, meski dalam bahasa ejekan.
   Keesokannya aku menelepon Faris, sahabat kita, yang kini jadi chef di hotel besar. Aku ingin membalas ejekanmu. Kalau ternyata aku juga bisa merasakan plecing kangkung di sini, lebih enak bahkan. Dan impianku bersambut gayung dengan senyum optimis Faris, Dia paham masakan itu.
   Lusa, datanglah Faris lengkap dengan bahannya. Mendikte apa saja yang harus aku lakukan. Memotong sayur, mencampur bumbu, menumbuknya, Faris selalu mengawasiku. Tapi, diriku malah seperti anak kecil yang sedang membantu mamanya memasak, merusak segalanya.
   “Hah! Ribet sekali sih, Ris? Tak ada bumbu instannya apa?” Ngambek. Kulempar badan ke sofa. Putus asa.
   Faris tertawa renyah. Membuatku makin sebal. Tapi dia melanjutkan hasil masakanku yang kacau balau. Mungkin dia memulai dari awal, karena memang hancur sekali buatanku. Kutengok dari balik sofa, serius sekali wajahnya. Coba kau bisa bercanda sedikit, Ris, pasti banyak yang tergila-gila padamu.
   ***
   Kusapa gunung seberang yang tampak samar, sebatas siluet hitam berselimut kabut. Kusisir puncaknya melewati rimbun yang terlihat hijau samar. Setelah ini mungkin aku akan membenci pagi. Sungguh jahatnya dia pagi ini, membawa aroma kelam nan dingin menembus hati. Tak hanya kulitku yang ditusuk-tusuk dingin. Hatiku sudah babak belur. Aku termangu setengah jam tanpa tanda hidup, mematung. Ah, mataku sembab.
   Aku masih terduduk lesu di depan teras. Membiarkan matahari perlahan menyapa mata, badan yang semakil kecil, menuju kaki. Ada telepon dari Faris. Dia mencariku yang tak muncul juga. Aku lupa. Bergegas kusiapkan semua, lalu berangkat. Di depan cermin, kupatut-patutkan diri, terutama wajah ini. Wajah bahagia wajib kupakai hari ini, hari spesial sahabatku.
   ***
   Faris melambai-lambai, tersenyum lebar memanggilku. Walau di tengah kerumunan, siapa tak akan cepat mengenali orang dengan kepala plontos mengkilap? Segera berjalan ke arahku, lengkap dengan mulutnya yang tak berhenti mengunyah.
   Aku takjub dengan konsep acara ini. Taman, barbeque, iringan akustik. Tak ada lagi rutinitas kaku di sini. Terbebas sudah dari gaun Jawa, jejeran tenda, maupun menu yang selalu seragam di semua tempat. Tapi, tetap saja hawa di sini membuat iri. Melihat orang bersalaman, mengikrarkan janji. Lalu, di sisi lain ada sahabatku menunggu. Tegang. Hingga kata itu akhirnya di ucap bersama-sama. Bahagia? Lega? Kata-kata itu masih jauh sebagai penjelasan dibanding melihat wajah mereka secara langsung.
   “Kau, bagaimana, Nad?” Dari samping Faris tiba-tiba bertanya.
   Aku menoleh dengan wajah merah. Sebal. Jangan bilang dia ingin mengeluarkan pertanyaan rutin tiap hajatan ini. Sampai dia bilang. Aku akan langsung pergi, ke belakang mungkin pilihan yang bagus. Capek menanggapi pertanyaan yang tak perlu jawaban seperti itu.
   “Setelah ini kau mau ke mana, Nad?”
   Gelagapan. Salah tingkah. Berarti tadi dia tak bermaksud tanya kapan giliranku menikah? Ah, Tuhan..., cepat emosi sekali aku sekarang ini. “Eh, kalau kau?”
   Toronto bukan tempat yang dekat, dan Faris pernah bicara kalau dia ingin meneruskan belajarnya. Menyebut, bahwa di sana ada orang yang ingin sekali ditemuinya untuk berguru. Tahun ini kesempatan itu datang.
   “Menurutmu bagaimana, Nad?”
   “Maksudmu apa, Ris? Kenapa harus tanya aku? Bukankah itu cita-citamu sejak lama? Kalau tak kau kejar sekarang, bisa jadi kau tak akan pernah bisa mengejarnya. Matahari hanya akan muncul waktu pagi.”
   Dia hanya tersenyum. “Terima kasih, ya, Nad.”
   “Mungkin aku juga harus mengikutimu, Ris. Berkutat di kota ini begitu lamanya, membuatku semakin sesak. Sudah saatnya aku mengepakkan sayap lagi.”

Kucing Hitam


Oleh : Muchtar Prawira Sholikhin*

Seekor kucing hitam berekor pendek. Menyelinap ke dalam kantin. Yang isinya tak penuh juga tak sepi pelanggan, sekedarnya saja. Dua tiga langkah. Ia diam. Duduk termenung memandang sendok dan garpu yang saling bertabrakan dengan piring, menimbulkan bunyi yang semakin melaparkan perut. Dengan sesekali menggaruk leher yang selalu gatal, diamatinya jajaran pelanggan di depannya, disapunya dari kanan ke kiri. Ada empat orang duduk berjajar, mungkin mereka satu geng. Lahap dengan nasi masing-masing, ditemani gemeritik piring dan sendok. Orang paling kanan melempar sisa ke tanah. Itu kepala ikan. Secepat kilat ia terobos angin menjemput pengganjal lapar. Melewati satu dua kursi yang kosong, berlompat-lompat menghindari pancang-pancangnya. Tiba ia di depan orang paling kiri. Tanpa berhenti ia lanjutkan larinya. Belum selesai satu kaki melanjutkan langkah, satu kaki orang paling kiri itu melayang, gagah dengan pantofelnya. Menyambar tepat perut yang masih keroncongan. Menghempaskannya sampai ke tembok.
Ancaman. Lari secepat mungkin adalah solusi. Masa bodoh kepala ikan yang sudah di depan mata. Masa bodoh pula dengan perut yang semakin perih. Sekejap kilat sampailah di luar kantin, depan pintu. Menengok ke dalam sekali, memastikan kembali apa yang dihadapinya tadi adalah wajah penguasa. Wajah ketamakan.
Cukup sudah deritanya lalu. Tak terpikirkan lagi. Jalanan sekarang jadi rumahnya, dunia yang lebih luas, pun juga lebih keras. Berjalan seiring mata memandang sekarang yang ia lakukan. Menanti barangkali bertemu Tuhan di penghujung jalan. Barangkali bertemu pengganjal perut di kiri atau kanan jalan. Sambil terus berjalan berarah tempat Tuhan berada, ia edarkan pandangan ke segala arah, tak ingin Tuhan terlewat. Tempat sampah. Ya, bertemulah ia dengan tumpukan penuh sampah. Dengan perut yang semakin terlihat tulangnya tak perlu lagi ia menghitung seberapa busuk sampah itu. Yang sekarang ada di pikirannya adalah perutnya penuh, hidupnya bergairah, maka jalan pun terang di hadapannya. Ia buka selembar demi selembar kertas, plastik, kaleng, serta barang lain sampai menemukan yang ia cari. Sayang, tempat itu bukan daerah pemukiman. Yang ia temukan hanyalah onggokan kertas dan plastik, ditambah beberapa batang kayu dan daun yang mungkin ada orang menyingkirkannya dari jalan.
Lewatlah pengharapan itu, namun masih ada pengharapan yang lain. Terlupalah satu tempat sampah kosong ke tempat sampah lain. Bumi masih terbentang luas, jalan juga masih terhampar di depan. Tentu masih ada harapan yang juga terbentang. Dan tak berlangsung lama kembali ia temui tempat sampah. Diobrak-abrik isinya, namun sama lah nasibnya kali ini. Tak menemukan jua sang harapan. Begitu selanjutnya kisahnya. Mengais satu demi satu tempat sampah, dan kembali menemui kehampaan.
Ia lanjutkan perjalanan. Berharap pada tempat sampah berikutnya akan ditemuinya jua. Terlewat banyak blok di depan, banyak pula kekecewaan ia rasakan. Mulai putus asa lah ia, namun Tuhan berkata lain. Ketika keputusasaan hampir merenggut seluruh keyakinannya, keberuntungan naik ke permukaan. Tercium bau tongkol goreng, lengkap dengan aroma saus manisnya, tercium sampai jauh. Mengoyak gelisah perut yang semakin menjadi-jadi. Didatangi lah tempat itu. Diamati kiri kanan, berharap tak ada makhluk lain selainnya. Tak mau lagi terulang pengalaman di kantin, ia mengendap-endap penuh perhitungan. Keberuntungan kedua, pintu rumah terbuka, cukup sebadannya menyelinap. Perlahan-lahan matanya selalu mengintai. Yakin tak ada masalah. Bergegaslah ia berlari, lompat ke kursi, lompat lagi ke meja, menggigit sebuah tongkol, lalu bergegas melompatlah dari meja ke tanah, cukup tinggi. Namun bahagia mulai timbul di pikirannya, juga di perutnya. Aku bisa bertahan hidup. Tapi secepat kucing itu pula pemilik rumah beranjak, entah dari mana, mungkin juga sedang mengawasi sedari tadi. Dihantamnya kepala kucing itu, menggoyahkan lakunya. Dengan sedikit sempoyongan, semakin dikencangkan lari si kucing hitam. Selamatlah ia masih bisa kabur dari rumah. Tapi tongkol yang sudah di ujung mulut tadi ikut terlempar ketika kepalanya dihantam. Hilanglah sedikit kebahagiaan yang sempat muncul. Tapi untung ia sempat merasai sedikit saus di mulutnya. Sedikit memberikan rasa pada mulut dan tenggorokan, walaupun tak sampai perut.
Banyak manusia yang selalu bilang, “kucing saja ada yang beri makan,” ketika manusia itu belum berpenghasilan. Tapi di zaman sekarang apakah kalimat itu masih relevan? Bukankah sudah sepatutnya diganti, “kucing seharusnya ada yang beri makan.” Ya, tepat seperti itu. Mana bisa sekarang semua didapat tanpa adanya uang? Tanpa adanya pengorbanan? Tapi apakah pengorbananku masih belum cukup untuk mendapat sebuah saja tongkol.
Kini ia hanya berjalan mengikuti ke mana langkah mengarah. Mungkin kembali mengais di jalan menjadi satu-satunya jalan. Tanpa adanya pukulan yang membabi-buta dan amarah, dia bisa bebas menikmati usaha, walau hasilnya tak selalu senikmat usahanya. Dan berjalanlah ia ke mana pun jalan terhampar. Mengikuti jalan selepas mata memandang. Dan sekali lagi, ia bergantung pada takdir. Semoga perutnya kini bisa bertambah berat, bertambah lega. Kembalilah seperti rutinitas sebelumnya. Berjalan ke mana arah, lalu mengais di mana tempat sampah menggunung.
Masih di sekitaran pemukiman warga, di ujung tepatnya, di tepi jalan raya, ia temui tempat sampah yang cukup harum baginya. Penuh dengan yang ia tahu, ikan, tulang-belulang dengan sedikit daging, tahu tempe, serta sisa makan lain yang sungguh menggugah selera. Segeralah ia mengaisnya, ditemui sebuah bungkusan yang cukup berat, dikeluarkannya dari tempat sampah, dikoyak pembungkus hitam itu. Dan berhasillah ia mendapatkan surga dunia, berhasil menemui di mana Tuhan berada. Namun tak berlangsung lama ada kucing lain mendekat. Berlari bahkan. Lalu menubruknya. Membuatnya terlempar dari posisinya yang siap melahap hasil mengaisnya. Beradulah cakar dua kucing ini. Kucing hitam melempar cakarnya, dibalaslah dengan cakar di muka oleh kucing satunya. Masing-masing saling meraung, menyuruh yang lain agar pergi. Tak ada yang pergi. Mereka berdua saling bersiap siaga, tanda akan menyerang. Dan tak perlu hitungan waktu yang lama bergulatlah kedua kucing jalanan ini. Berguling-guling hingga ke jalan. Tak disangka ada mobil lewat. Tak kencang memang, tapi kecepatannya tak bisa dikalahkan kedua kucing ini. Terlindaslah mereka. Satu terkena ekornya yang kini bengkok. Satunya, yakni kucing hitam beruntung memiliki ekor pendek, sehingga tak terlindas ekornya. Tapi naas, kaki kiri belakangnya yang terkena.
Sontak, mereka lari kencang, sekencang yang masing-masing bisa. Kabur dari raksasa itu, yang bisa jadi akan terus mengejar mereka. Si kucing hitam lari sebagaimana kaburnya dari kantin dahulu. Namun kini dengan kaki yang pincang. Ia tak bisa lari jauh. Ditambah perutnya yang semakin keroncongan membuatnya hilang tujuan. Kemana lagi harus dilangkahkan kaki?
Sudah lemas ia berusaha. Badan lebur dikandungnya, hati capai ia rasai. Kini ia sudah lelah pada hidup. Mencuri. Biarlah sekali lagi dicobanya. Kini ia hanya pasrah. Entah nanti mati atau hidup bukan lagi pikirnya, toh tanpa makan mati juga. Ia hanya ingin secuil atau barangkali dua sampai tiga cuil daging demi perutnya.
Dimulailah usaha terakhir. Kembali ke kantin yang memiliki lebih banyak dari rumah yang ia sambangi tadi. Tanpa rencana, mulai mengendap-endap. Menahan sakit pada kaki pincangnya ia telusuri kantin dari pinggir. Bersembunyi di bawah gelap kursi-kursi. Merunduk-runduk mirip binatang melata –sebagaimana instingnya- ia maju perlahan-lahan. Hari sudah gelap, kantin ini pun sudah sepi. Tak ada yang melihatnya, tapi ia tak mau dihantam lagi. Setelah melewati kursi-kursi yang kini kosong, tiba lah di tempat jajaran makanan dihidangkan. Namun kosong. Dilihatnya ada pintu belakang. Dengan masih sembunyi-sembunyi, perlahan ia masuki pintu. Di sana ada kompor yang sudah dingin, dan wajan di atasnya yang juga dingin. Ada piring-piring yang sudah bersih ditata rapi. Tapi matanya terbelalak ketika melihat ada piring yang diletakkan di bawah, lengkap dengan ikan tongkol harapannya. Bisa jadi ini adalah jebakan sebagaimana ketika ia sambangi perumahan tadi pikirnya. Takut-takut dengan perlahan ia semakin mendekat. Tak ada ancaman. Perlahan dilahapnya sedikit demi sedikit. Dikunyahnya tongkol harapan itu. Setiap kecapan dinikmatinya, dirasakannya badan yang sudah lebur kini mendapati hasil. Kini perutnya sudah berkembang, pun hatinya sudah lega. Dan malam ini ia pun tidur di tempat ini.

Operasi Rahasia Pengintipan

Gubrak glethak klempyang...

"Oi oi oi nyantai coy, kaya kucing yang ngeliat preman aja. Kalau mau ngintip itu harus profesional, harus sesuai SOP. Paham gak lu?"

"Oooo... oke-oke."

Sekarang ganti Markolet yang menjadi leader dalam operasi rahasia pengintipan, dia ingin menunjukkan keseniorannya kepada anak didiknya. Agar ilmunya bisa menurun katanya.

Yah tapi ternyata sama saja, walaupun Markolet bertutur tentang SOP teknik mengintip tetap saja grusak-grusuk juga. Malah napasnya sudah ngos-ngosan dulu. Ya namanya juga nafsu, akhirnya ember gedhe melayang ke arah Markolet dan muridnya dengan kecepatan satu per sepuluh kecepatan lari mereka. Apa mau dikata, karena secara perhitungan sudah mustahil menghindar, di-ikhlaskanlah kepala mereka menjadi tumbal. Plethak... eh salah grumbyang...

"Hahaha hujan di mana let tadi? kamu sampai basah kuyup gitu"
"Asem... jangan sok lugu deh ndul, kamu juga ngintip kan tadi diseberang? pake acara bawa teropong lagi"
"Nyahaha itu namanya pengalaman bung, aku kan sudah pernah ketahuan juga. Ya belajar dari pengalaman dong coy."

Dan obrolan mereka bertiga pun berlanjut pada sharing pengalaman serta rapat strategi bagaimana mengintip dengan baik dan benar.

Petuah dari Markolet bahwa semua itu butuh proses, dalam setiap perjalanan dalam proses pasti akan menemukan pengalaman, strategi, hikmah. Ambil langsung, jangan sampai mubadzir coy. Proses itu perlahan, naik setahap demi setahap, maka dari itu sabar dalam menjalaninya sangat perlu, jangan dikalahkan oleh nafsu. Dan yang sangat utama adalah syukur. Syukuri sudah seberapa lama kamu bisa mengintip sebelum digethok pakai gayung, indah bukan? Atau jikalau kau belum berhasil juga namun sudah kena getahnya... SOKOOORR!!!

Instropeksi Diri

"Satu waktu aku merasa berat sekali menjalani 3 dunia ini, namun di waktu yang lain dengan yakin kujalani semuanya."

Yah memang pemikiran pun walau kita sudah sangat banyak referensi masih bisa juga naik turun. Itulah yang sering aku alami selama ini. Meski setiap hari buku selalu merasuki sel-sel otak, sharing, serta banyaknya pengalaman yang dihadapi, tetap jika dihadapkan dengan pilihan pasti akan kagok juga, terutama pilihan yang pertama kita lalui.

Hari itu saat banyak sekali pusat keramaian di Universitasku bernaung mengejar S1 Ilmu Komputer. Masing-masing spot menawarkan kegiatannya masing-masing, mirip saat berjalan mengitari mall yang menyajikan janji-janji super heboh. At least, mereka sangat berjuang keras untuk acara mereka. Itu yang aku suka. Aku memilih satu acara bersama salah satu adik tingkat yang cukup tinggi jika diukur kesamping. Nama acaranya ICT Day. Aku dan Pramu sudah berancang-ancang sedari awal untuk hadir di acara seminar, salah satu rangkaian acara pada rangkaian ICT Day. Dengan wajah sumringah, hati berdebar tak sabar rasanya merasakan sebuah seminar yang pematerinya dari luar. Yang aku pikir sampai saat itu.

Lift dengan tingkatan delapan kami lewati, dan langsung setelah keluar lift meja resepsionis terhidang didepan kami. Namun apa daya fakta tak selalu berbanding lurus dengan impian. Ini jam berapa men? masih aja siap-siap. Bener-bener gak professional. Ya sudahlah akhirnya kita turun lagi untuk memandang berbagai pemandangan yang entah itu asyik atau tidak dimata kami, yang penting bisa membunuh waktu yang cukup lama ini.

Anggrek putih, dahlia, pohon cemara, dan entah tumbuhan apa itu yang sedang menarik pandanganku. Cukup lama alat indera ini beradu pandang dengan sekelompok tumbuhan di depanku. Sampai kondisi itu memutarkan rekaman tentang masa-masa ketika bersama Didin, Fafan, Indah. Teman organisasiku. Ah, begini kawan ternyata yang sering mereka anggap tentang kita dulu. Sungguh memalukan, acara besar hanya terisi oleh beberapa jiwa saja. Dan malahan sekarang acara entah kapan akan dimulai. Boro-boro mulai, dibuka saja belum. Namun pengalaman itu tak mungkin kulupa, pengalaman tentang 3 kehidupan yang berjalan sekaligus. Tentang masa-masa dimana prioritas, taat, dan tepat menjadi rekan yang saling membutuhkan.

Masa dimana aku berperan sebagai seorang yang nampak sebagai ahli surga. Itu yang selalu dikatakan para pencibir. Rombongan malaikat yang sedang turun ke bumi. Entah itu hinaan atau pujian, yang penting kami masih syahdu dengan kemesraan ini, kemesraan dengan Sang Maha Pencipta. Please, jangan judge kami seperti itu, kami manusia biasa. Ada kuat ada lemah. Sebagai seorang anggota kerohanian Islam kami hanya berusaha memenuhi kewajiban 100% yang telah dicontohkan pendahulu kami.

Kehidupan kedua menjadi pacar sebuah laptop. Yap, sebagai mahasiswa Ilmu Komputer tak mungkin lepas dari yang satu ini. Yang setiap hari harus berkutat mengerjakan tugas di depan alat elektronik ini, hang out dengan berbagai media sosial yang disediakan di dunia maya, serta kerja pun masih saja tangan ini tak lepas dari yang namanya tuts-tuts canggih. Sedikit sekali waktu untuk mata ini bertemu dengan birunya langit bumi, tangan ini bercengkerama dengan halus serta kasarnya tanah. Namun kuyakin realita ini telah terjadwal sejak saya lahir, dan tinggal menjalani masa depan yang super-duper-hebat nanti.

Dan yang kubilang tadi terkait kerjaanku, dan ini menjadi sedikit hiburanku selama ini. Menggambar. Yap, walaupun masih berkutat di depan laptop, namun ada rasa tersendiri yang menghiasi otak dan dada ini selain bosan. Bahagia. Kerjaku menggambar tentang apa-apa yang menjadi permintaan dari orang yang entah tak aku kenal siapa dia dengan baik, hanya terjalin ikatan nama dan kebutuhan.
Tiga kehidupan yang lumayan menyita waktu, namun tepatnya bukan menyita, namun mengisi ceritaku yang paling tidak bisa mengisi blog ini. Ahaha. Inilah jalan hidup yang kupilih kawan, dan inilah pula jalan hidup yang ditakdirkan Allah untukku dan untuk semua makhluk yang berhubungan denganku. I hope this life can make anyone in my side be happy.

Setelah rekaman beberapa menit selesai diputar, kami lanjut kembali ke lantai atas tanpa cuap-cuap yang cukup lama, mungkin memang bukan tipeku. Hahaha, gila! akhirnya langkah kami direstui, mbak-mbak yang lumayan cantik, namun kurasa tidak cantik (eh hus, dasar jomblo gila) menyapa kami dengan senyumnya.
"Selamat pagi mas, silahkan registrasi ulang dulu".
Hah? pagi? Jam berapa ini? Namun tak baik kalau senyum itu dibalas cemberut "Pagi mbak, iya". Dan serasa otakku bekerja lebih keras dengan sendirinya, Wah apa? registrasi ulang? aku lupa boy. Kami berdua memang lupa registrasi, namun kenapa ingatnya pas saat itu, yang datang seminar lumayan banyak lagi, gak ada harapan untuk kita agar bisa menjadi pengganti dari beberapa nama di kertas itu. Dengan santai kuucap "Oh?", kami pulang karena memang tak ada kerjaan disitu. Paling tidak memori ini masih menyimpan semua kerja tubuh selama ini, sehingga masih memberikan kesempatan otak ini untuk terus introspeksi diri.

Ryuki Aiko


           Tempat duduk di tengah, dekat Albert. Itulah yang ada di pikiranku ketika memasuki ruang ujian UAS semester ini. Seperti semester-semester sebelumnya yang membuktikan kalau yang ada disebelahku itu Albert pasti akan membawa keberuntungan, entah itu dibilang keberuntungan atau strategi. Ilmu itupun yang selalu kugunakan di setiap ujian di kampus ini. Dan aku sangat beruntung mempunyai teman sepintar Albert. Selain strategi tersebut, tidak lupa tadi malam aku dan teman-teman berkoordinasi terkait alur koordinasi nanti waktu ujian. Siapa saja yang menjadi sumber, siapa yang membagikan, dan siapa yang bagian mengawasi pengawas. Semua sudah tertata rapi. Memang benar-benar kompak kelas ini. Bermain game saja kelasku selalu yang menjadi juara dalam hal kerjasama, apalagi hanya untuk UAS ini. Ah gampang lah.

Satu persatu squad kelasku hadir dan mulai menempati posisinya masing-masing. Semester ini menurut perkiraanku akan lancar seperti semester yang lalu. Sampai salah satu temanku, namanya Yudi duduk di tempat yang berdekatan dengan pengawas.
“Wah, anak ini bisa buat rencanaku gagal ini. Siapa yang bagian mengalikan perhatian pengawas kalau begini, coba?” gumamku sendiri.
“Ah biarkan saja, toh kita masih ada yang lain di posisi sana” jawab temanku menenangkan.

***

Dan soal ujian mulai dibagikan. Di menit-menit awal kami santai, dalam perhitungan kami di awal kalau pada waktu-waktu seperti ini pengawas akan memberikan perhatiannya secara penuh, dan sumber-sumber kami juga bisa dipastikan belum menemukan jawabannya. Jadi kalau kita melakukan aksi pada menit-menit awal seperti ini tidak akan berbuah hasil yang maksimal dan membuat pengawas lebih memberikan perhatiannya pada menit-menit selanjutnya. Ini bisa berabe kalau sampai terjadi, gagal total sudah segala persiapan kami.

Setelah 30 menit awal berjalan, melihat kondisi yang sudah mulai kondusif. Aku pun memberikan kode bahwa aksi boleh dimulai. Secara halus dan terkonsep sejak awal jawaban berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain, dari bangku satu ke bangku yang lain, dan dari hp satu ke hp yang lain sampai semuanya terdistribusi secara rata kecuali Yudi yang tak pernah mau ikutan dengan cara kita mengerjakan UAS. Dia selalu menjawab sendiri, tak mau diberi contekan dan tak mau mencontek. Walaupun dia sendiri tergolong anak yang tidak terlalu pintar di kelas.

Seiring berjalannya waktu, pengawas memberitahukan bahwa waktu akan habis. Bergantian kami mengumpulkan jawaban agar bisa teracak satu sama lain. Dengan hati lega kami keluar ruangan.

***

Masuk hari kedua ujian kami mulai lebih ketat dalam strategi. Kalau dalam sepakbola ini bagaikan pertandingan derby antara Arsenal dan Chelsea yang cukup menguras keringat, karena mata kuliah ini merupakan mata kuliah yang terberat diantara mata kuliah yang lain pada semester ini. Kami mulai mengatur segalanya, mulai dari siapa yang akan menjadi sumber, sebagai cadangan siapa yang akan membawa resume masing-masing bab-nya, dan persiapan yan lainnya.

Tak berapa lama Yudi masuk dan langsung duduk di tempat yang paling depan.
“Ah, anak ini pasti mencontek juga sekarang. Orang waktu kuliah saja dia lemah di mata kuliah ini. Aku tidak yakin kalau dia seperti kemaren lagi.” Ucapku dalam hati.

Dengan cepat pengawas membagikan soal serta lembar jawab ujian. Dan sekali lagi rencana pun berjalan dengan lancar, walaupun ada sedikit masalah di tengah-tengah, namun keseluruhan bisa dikatakan lancar.

Kenapa setiap ujian tak pernah sekali saja aku tidak memikirkan Yudi. Begitu juga saat itu, rasa benciku tiba-tiba muncul.

“Ih, anak ini. Sok alim banget sih. Nyontek tidak mau, dicontekin juga tidak mau lagi. Emang dia pintar apa? Sok alim banget sih...”
Setiap ujian yang pernah kulihat sekali saja dia tidak pernah memalingkan mukanya. Atau memang dia sedang sakit leher? ejekku dalam hati. Dia selalu kukuh untuk tidak menyontek.

Seperti biasanya ujian hari itu berlalu lancar dengan berbagai strategi kami. Juga hati ini terasa lega dan puas. Karena pasti orang tua tidak akan marah, dan ada yang dibanggakan ketika IPK diatas tiga. Tidak seperti dahulu waktu SMA yang setiap tugas yang diberikan guru selalu tidak bisa dikerjakan, apalagi selalu dimarahi orang tua ketika diajari tidak ada yang masuk ke otak. Pokoknya dahulu penuh tekanan. Beda dengan sekarang yang orang tua tidak akan ikut campur urusan kuliah, yang terpenting hasil bagus.

Hari dimana hasil ujian dibagikan menjadi suatu keasyikan tersendiri bagi kami. Seperti menunggu film terbaru yang akan launching di bioskop. Tak sabar aku menunggu hasil ujian semester ini. Aku yakin semester ini seperti semester sebelumnya akan sempurna. Paling tidak sekitar tiga. Aku yakin itu.

Ketidak sabaranku membuat sel-sel ini ikut terpengaruh, sehingga dengan cepat kubuka lepi yang selalu menemaniku selama kuliah disini, walaupun hanya game dan film yang memuncaki rating tertinggi aplikasi yang sering kubuka. Jari-jari ini menari dengan cekatan bersama tuts-tuts-nya mulai dari membuka rangakaian-rangkaian kode yang kupasang dalam lepi-ku. Masuk kedalam desktop yang berisi shortcut-shortcut game serta beberapa copy-an materi kuliah. Kuarahkan kursor ke browser dan langsung kubuka situs dimana nilai-nilaiku terekam.

Senyum lebar mengembang dari bibirku, menggambarkan kumpulan nilaiku yang sangat indah. A, B, B+ menghiasi sebagian besar hasil kuliahku untuk kesekian kalinya.

Seketika itu aku teringat temanku yang sok alim itu, Yudi. Walaupun ada rasa benci di hati dengan sikapnya yang sok itu, namun dia juga tetap kuanggap teman.

“Bagaimana ya nilainya?Dia kan tidak pernah nyontek di kelas. Kalau sampai bisa bagus sepertiku ini, wah kurang ajar anak ini. ”

Aku sedikit ragu dan kasian dengan nasibnya nanti. Yudi sebernarnya anak yang baik, namun dengan keangkuhannya itu menjadikannya banyak dibenci teman sekelas.

***

Keesokan harinya aku pergi kekampus, walaupun tidak ada kuliah tapi aku ingin melihat bagaimana nasib teman-temanku. Sesampai di kampus langsung kutemui papan pengumuman di jurusanku. Dan pandanganku langsung mengarah pada daftar nilai mahasiswa-mahasiswa matematika 2010. Satu persatu kawan karibku tak lepas dari pengamatan.

“Ah, dasar kurang ajar kau Dib. Padahal kau kemaren banyak diamnya, tapi nilaimu bisa melebihi aku. Pakai dukun mana kau? Hahaha.”

            Sedikit sebal aku dengan Adib yang mempunyai nilai diatasku, padahal dia itu kalau dibandingkan denganku masih pintaran aku.

        Searah dengan jari-jariku mengurutkan nama-nama di papan pengumuman. Kutemukan nama yang tak asing lagi. Dan kuurutkan dengan nilai-nilanya.
            “B, C, D, C, C”
            Nilai-nilai yang kelas low-end tersebut yang terpampang di papan pengumuman. Dengan sedikit angkuhnya aku menghinanya.

            “Dasar sok alim, rasain tuh nilai-nilaimu.”

            Tiba-tiba Si Yudi menepuk dari belakang. Dan dengan santainya menanyakan nilainya kepadaku. Dengan berlagak friendly dia menanyakan itu dengan merangkul pundakku.

“Wah nilaiku pas-pasan lagi ya? Hahaha. Tapi tak apa-apalah yang penting masih sesuai syarat.”

            Dalam hatiku santai sekali anak ini, tidak ada beban sama sekali. Hasil yang seperti tadi dianggap seperti angin lalu, seperti tidak ada apa-apa yang terjadi. Karena penasaran kuselidiki keseharian Yudi dengan sembunyi-sembunyi.

            Mulai dari teman dekatnya satu persatu aku tanyain bagaimana keadaannya saat bersama mereka. Apakah dia anak yang pintar atau bagaimana kesehariannya bisa sampai sesantai itu dengan nilainya? Mereka pun hanya menjawab biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa dari Yudi.

            Kurang puas, kukunjungi rumahnya. Namun hanya bisa kutemui orang tuanya. Kutanyakan pertanyaan yang sama kepada ibunya Yudi. Dan jawabannya pun juga masih memuaskan hatiku.

            “Yudi itu dik, anak yang pendiem. Dan kerjaannya itu banyak didalam kamar.”

            Sumber-sumber yang lain pun juga aku tanya satu persatu. Dan hasilnya sama saja, Dia sama seperti mahasiswa biasa yang lainnya. Tidak ada yang istimewa dari Yudi.

            Karena sangat penasarannya di lain hari kukunjungi Yudi di rumahnya yang kebetulan hari itu hari libur. Ibunya yang sebelumnya pernah bertemu denganku mempersilahkanku masuk dan menyuruh agar langsung menemui Yudi di kamarnya.

            “Eh Mar” 

            Yudi terlihat kaget dengan kedatanganku. Sepertinya aku mengganggu keasyikan dalam menulis. Apakah dia menulis cerita, tugas, atau yang lain aku takterlalu memperhatikannya. 

            “Iya Yud, aku tadi lewat sini. Jadi mampir saja, tidak apa-apa kan?”
            “Eh, aku cuma kaget saja. Silahkan...silahkan... Aku buatkan minum dulu ya?”
            “Tidak usah repot-repot Yud, cuma sebentar kok sepertinya.”
            “Beneran tidak mau? sudah kamu istirahat dulu saja. Cuma sebentar kok.”
            “Hehehe, oke deh.”

            Ketika Yudi pergi, kuperhatikan sekeliling kamarnya. Biasa kebiasaan seseorang kalau melihat sesuatu yang baru, pasti ingin tahu. Begitu juga denganku, mulai tempat belajar, kasur, almari, dan berbagai sisi kamar kuperhatikan satu persatu. Lumayan juga anak ini, kamarnya rapi untuk ukuran kamar cowok. Namun dari semua sisi kamar ada satu sisi yang membuatku bertanya-tanya. Ada kumpulan buku yang banyak sekali dan kesemuanya tertulis nama “Ryuki Aiko”. Siapakah nama itu sampai dia mengoleksinya segitu banyaknya. Padahal nama itu nama yang kurang terkenal.

            Sangat penasarannya diri ini membuatku membaca buku-buku itu. Ini novel? Kok sampai sebanyak ini ya? Novel dari manakah ini? Apakah terjemahan dari Jepang atau asli Indonesia? Semua pertanyaan itu langsung muncul di otakku.

            Waktu Yudi datang kutanyakan perihal novel tersebut kepadanya. Jawabannya sangat singkat. Iya itu koleksiku sejak lama. Ketika kutanyakan ke orang tuanya pun, mereka juga tidak tahu. Mungkin koleksinya dik, kan Dia sering baca novel begitu.

            Setelah obrolan yang lama bersama Yudi aku pun pamit pulang. Sesampai di rumah langsung kucari semua informasi tentang novel itu dan nama Ryuki Aiko. Dan ada salah satu artikel yang mengulang penulis novel itu dan kutemukan fakta bahwa...
            “RYUKI AIKO =  YUDI PRIMAHENDRA”


 

Copyright © Mahya. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com