Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Memahamimu


Move on atau belum, bukan indikasi kita tak bahagia kan? *nyariBenernya :D

Kau tahu tempat kau melamun meski mbak-mbak pelayan sudah memanggilmu? Aku di tempat itu sekarang. Orang bilang takdir, tapi tak kupercaya begitu saja. Meski hujan deras membuatku berhenti sejenak. Kakikulah yang melangkah melewati pintu dan duduk di tempat yang persis setahun lalu. Masih ada baumu di kakiku, tapi yang paling kuat tentu di kepala. Mungkin bila dibelah,
akan mencuat macam tabung gas pemadam kebakaran.

Namun, meski gas itu masih memenuhi segala sisa ruang kepala. Otakku masih berdenyut dengan cepat. Memaksa untuk menyelesaikan segala tugas, meningkatkan kemampuan badan. Ya, walau di selanya masih memikirkanmu. Mungkin ini sebuah anugerah, yang memaksa otakku bekerja melebihi kapasitas umumnya. Katanya jika kita bisa memaksimalkan fungsi otak melebihi dua puluh persen, kita bisa melakukan sesuatu yang mustahil, seperti para pesulap. Barangkali aku bisa menghadirkanmu lagi di depanku, tepat seperti setahun lalu, dengan tiramisu di bibir masing-masing, kita mengunyah kata kesukaan masing-masing. Dengan begitu aku bisa menunda agar gas ini tak berubah menjadi air, lalu menjadi semakin pekat.

Sampai sekarang aku masih gamang apa yang kamu lamunkan saat itu. Setiap malam salah satu scene itu pasti tampil di layar, “Itukah awalnya?” Apakah sikap dinginku yang sedang kau lamunkan? Yang selalu menyiksamu...?

Tapi kini ingatan itu juga menyiksaku. Setiap malam tak lepas kepala dari penat. Membuatnya sempurna berdenyut kencang dua puluh empat jam. Yang menjadikan baumu di kepala berubah menjadi pekat. Mungkin sebentar lagi akan menjadi kerak, tak bisa lagi dilepaskan.

Tapi, jika ini hukumanku karena tak segera paham, aku ikhlas. Aku akan menjalani hidupku bersama ingatan itu. Menjadi laki-laki yang berkembang, tumbuh, dan bekerja keras bersama segala hukumanmu padaku. Setidaknya sampai aku memahamimu. Semoga kau sabar menanti kebebalanku ini.

Gadis Bermata Sayu



Seseorang berwajah putih, bermata sayu, dengan jilbab ungu yang membuatku seperti ini. Bangun lepas subuh, mandi dengan air beku malang, lalu duduk manis tepat depan perpustakaan kampus yang belum buka. Hanya berteman bangku-bangku besi yang berjajar panjang. Aku duduk paling ujung, agar pandanganku luas. Tak ingin kehilangan kesempatan menemui gadis bermata sayu itu.
Lepas satu jam. Mata sayu itu belum tampak. Beberapa mahasiswa mulai ramai. Memarkir sembarang kendaraan mereka di sisi jalan. Yah, kampus ini memang kekurangan lahan, atau kelebihan orang? Haha. Mereka terburu-buru sampai terbirit-birit. Sepertinya mereka bangun kesiangan.
Tiga jam kuhabiskan dengan duduk. Hampir seluruh tempat duduk penuh. Tapi mata sayu itu masih belum terlihat. Kuedar pandang ke kerumunan mahasiswa di kolam belakangku. Bukan. Kulempar jauh pandang sampai seberang. Tch. Hanya satpam yang sibuk dengan kopi dan ketawa.
“Permisi mas...”
Mataku berbinar. Kutengok langsung ke belakang. Aku ingin segera menyap... Ah sayang sekali. Kukira gadis bermata sayu itu. Ternyata hanya mahasiswi yang ingin menggunakan colokan di sampingku. Dugaanku dia anak baru, dilihat dari wajah SMA-nya.
“Iya, silahkan.”
Banyak orang lalu lalang. Lalu lintas mulai padat merayap. Ini tandanya sudah siang. Aku pulang. Sekarang giliran jaga warnet. Hari ini mungkin cukup. Yah, semoga esok ada hasil.
Lima hari sudah rutinitas ini kujalani. Bosan mendera. Belum juga berhasil kutemui gadis bermata sayu itu. Sejak pertama bertemu dengannya tanganku berubah jadi batu. Kaku. Selalu ada yang kurang dari lukisanku. Dan salah satunya adalah lukisan gadis itu.
***
Ini berawal lima hari sebelumnya. Di acara ulang tahun kampus. Mereka mengadakan lomba lukis sebagai salah satu acara parade seminggu penuh. Ini hal baru di sini, karena sebelumnya hanya di isi konser. Paling-paling hanya satu dua yang menarik. Salah satunya wayang kulit. Tapi sekarang mereka berpihak padaku. Selain wayang kulit, mereka mengadakan lomba lukis. Membuatku semakin bergairah datang ke kampus.
Tapi saat hari H, di mana semua peserta di uji untuk melukiskan kampus dalam waktu delapan jam. Membuatku kelabakan. Deadline. Yah, deadline itu musuh besarku. Kepalaku buntu ketika harus dibatasi. Baik waktu maupun tema.

Bro, ketika denger UB. Yang kau pikirin apa?

Kukirim pesan ke temanku.

Macet lah.

“Hmm, macet ya? Okelah....”
Kuarahkan kuas pada kanvas. Kuarahkan pula mata mengikuti kuas. Tapi tunggu... di balik kanvas. Kau pernah saat kecil. Dipaksa ikut acara nikah. Dipaksa menyalami orang tua yang tak kau kenal. Hanya untuk basa-basi. Lalu kau melihat pojok souvenir. Ada boneka adat di sana. Tak lama kemudian kau asyik dengan boneka adat di duniamu sendiri. Itu yang kualami sekarang kawan. Mataku tertawan. Ada sosok yang melukis senyum di wajahku. Menawan mataku hingga tak ingin berpindah haluan darinya. Namun mengubah seluruh haluan kepadanya, termasuk lukisanku. Aku melukisnya, kawan.
Kumulai dengan sungging senyumnya yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Menghias senyum teduhnya, kulengkapi dengan paras sendunya. Aku tersenyum. Dan satu yang paling aku idamkan dari lukisan itu. Mata sayunya. Ya tatapan sayu itu telah menawan hati. Tetapi lepas delapan jam hanya wajahnya saja yang kulukis. Pun tanpa pewarna yang lengkap. Wajahnya saja tak pernah selesai kugambarkan, selalu ada yang kurang. Apalagi menghiasi keseluruhan menjadi karya yang utuh. Kuserahkan saja lukisan itu ke dewan juri.
Biarlah lukisan itu tak selesai. Kini ada yang nyata di depan mata.
“Ada apa di balik temaram lampu jalan?” malam itu aku pun memberanikan bertukar sapa. Mengulur salam.
“Oh, maaf... lukisanku ya?” Ia kaget.
“Yap... apa ada kenangan dengan yang dahulu?” Oke... langkah pertama.
“Karena kita baru menilai sesuatu ketika adanya mulai terbatas. Termasuk cahaya.” Wajahnya mulai serius.
“Tepat. Seperti seorang berparas sendu di tengah kesangaran para lelaki. Haha”
Pembicaraan kami mulai larut. Apalagi ketika mata saling berpapasan. Tapi sayang, sift jaga menutup pertemuan itu. Aku pulang, tapi ada yang tertinggal.
Dan itulah yang kucari sampai sekarang.
***
Itulah yang kucari sampai hari kelimabelas. Tapi belum juga kutemukan gadis bermata sayu itu. Bahkan namanya pun aku lupa memintanya. Penat. Apa ini hanya pemanis semata? Seperti sedia kala? Yah, lebih baik kuterbangkan angan yang tak sampai itu. Biar saja angin mengemasnya ke dalam sebentuk kenangan. Salah satu angin itu adalah berlibur.
Berlibur bersama kawan sepermainan menjadi rutinitasku. Setidaknya sebulan sekali. Berhubung budget kita tipis, jadilah Alun-alun Batu tujuan refreshing kami kali ini. Walaupun begitu, tempat ini masih memberikan suasana wisata mahal. Cukup keluar uang dua ribu untuk parkir, ditambah dua ribu untuk kopi. Kami bisa menikmati jalanan serta taman yang ramai kerlip lampion. Dan terlebih, ada rasa rumah di sini.
Tentu aku juga membawa buku sketsa, peralatan wajib. Malam di sini menjadi salah satu candu setelah renovasi. Kau bisa melukis banyak emosi dari segala umur di sini. Malam atau siang sama saja. Akan selalu ramai. Aku pamit dari rombongan yang di seberang jalan, mereka paham. Aku memilih duduk di depan air mancur. Ada riang anak-anak yang bermain air di sini, tak lupa muda-mudi saling memadu kasih.
Malam di Batu bisa membuatmu ketagihan untuk selalu datang. Mereka menawarkan eksotisme parade lampu di tengah sejuk hawa pegunungan. Apalagi ketika kau bisa melihat arsitektur alami itu dari ketinggian. Oh ya... di Alun-alun ini kau bisa menyaksikannya juga. Ada bianglala yang menjadi ikon Alun-alun Batu. Karena memancarkan cahaya paling terang. Ketika dari kejauhan, kau lihat kerlip terang memancar. Itulah bianglala ini. Mungkin aku harus mencobanya lagi. Bukankah melihat dataran yang luas bisa membuat hatimu lebih luas?
“Pak, tunggu...!!” Aku berteriak dan sedikit berlari-lari kecil. Bianglala itu sudah mau jalan.
Ah... untung saja aku bisa mengejar dan penjaga itu sabar menunggu. Ada orang lain di dalam.
“Mas, berdua sama yang lain ya? biar imbang.” Ucap penjaga bianglala.
“Iya deh pak...” Sebenarnya aku ingin menikmati ini sendirian. Tapi ya sudahlah, namanya juga wisata umum, murah lagi. “Permisi... eh!!” Gadis itu....

Terbang

   Undangan ada di tangan, pink beramu biru muda. Pertama pandang, sungguh megah adanya. Tapi, pandangan pertama memang sering menipu, wajah sering beda sekali dengan hati. Wajah lipatan itu memang cantik, aku terpesona. Tapi, isinya malah membuatku terpaku. Apa benar yang kulihat, Dib? Yang tertera itu? Namamu.... Aku mungkin seperti memegang bara api, membakar tanganku, mengacak otak, dan yang paling parah, panas itu menembus ulu hati. Hancur.... Kau tak sedang jahil padaku kan, Dib? 
   Aku lelah. Akankah seperti ini akhirnya? Kuletakkan surat itu di atas tumpukan buku yang mulai menggunung. Aku tersenyum sinis. Sejak kapan aku suka baca buku? Tapi, lihatlah Dib! Jika kau ingin ke perpustakaan, kau cukup ke rumahku. Berjejer rapi novel, buku psikologi, motivasi, sampai buku agama. Belum semua kubaca. Yang sudah kubaca pun itu kupaksa. Agar aku tak terlalu banyak berkata “oh...” di depanmu. Lebih cair.
   Apa ini salahmu...? Ini salahku yang terlalu dalam mencintai.
   ***
   Pernah kau berlibur ke Lombok. Lalu dengan nada mengejek, kau pamerkan kemolekan pantai sana, bersih, sepi, luas, bagai surga tersembunyi, tak lupa kau singgung Rinjani. Mana ada yang tak iri? Apalagi itu dari mulutmu. Sejak kata ejekan pertamamu saja, aku sudah membayangkan berada di sana bersamamu. Tapi kau tak peka. Aku sebal. Terlebih ketika kau kata sedang menikmati plecing kangkung tepat di bibir pantai. Kalau ada kata di atas sebal, pasti sudah aku pakai. Tapi aku senang bisa berbincang denganmu, meski dalam bahasa ejekan.
   Keesokannya aku menelepon Faris, sahabat kita, yang kini jadi chef di hotel besar. Aku ingin membalas ejekanmu. Kalau ternyata aku juga bisa merasakan plecing kangkung di sini, lebih enak bahkan. Dan impianku bersambut gayung dengan senyum optimis Faris, Dia paham masakan itu.
   Lusa, datanglah Faris lengkap dengan bahannya. Mendikte apa saja yang harus aku lakukan. Memotong sayur, mencampur bumbu, menumbuknya, Faris selalu mengawasiku. Tapi, diriku malah seperti anak kecil yang sedang membantu mamanya memasak, merusak segalanya.
   “Hah! Ribet sekali sih, Ris? Tak ada bumbu instannya apa?” Ngambek. Kulempar badan ke sofa. Putus asa.
   Faris tertawa renyah. Membuatku makin sebal. Tapi dia melanjutkan hasil masakanku yang kacau balau. Mungkin dia memulai dari awal, karena memang hancur sekali buatanku. Kutengok dari balik sofa, serius sekali wajahnya. Coba kau bisa bercanda sedikit, Ris, pasti banyak yang tergila-gila padamu.
   ***
   Kusapa gunung seberang yang tampak samar, sebatas siluet hitam berselimut kabut. Kusisir puncaknya melewati rimbun yang terlihat hijau samar. Setelah ini mungkin aku akan membenci pagi. Sungguh jahatnya dia pagi ini, membawa aroma kelam nan dingin menembus hati. Tak hanya kulitku yang ditusuk-tusuk dingin. Hatiku sudah babak belur. Aku termangu setengah jam tanpa tanda hidup, mematung. Ah, mataku sembab.
   Aku masih terduduk lesu di depan teras. Membiarkan matahari perlahan menyapa mata, badan yang semakil kecil, menuju kaki. Ada telepon dari Faris. Dia mencariku yang tak muncul juga. Aku lupa. Bergegas kusiapkan semua, lalu berangkat. Di depan cermin, kupatut-patutkan diri, terutama wajah ini. Wajah bahagia wajib kupakai hari ini, hari spesial sahabatku.
   ***
   Faris melambai-lambai, tersenyum lebar memanggilku. Walau di tengah kerumunan, siapa tak akan cepat mengenali orang dengan kepala plontos mengkilap? Segera berjalan ke arahku, lengkap dengan mulutnya yang tak berhenti mengunyah.
   Aku takjub dengan konsep acara ini. Taman, barbeque, iringan akustik. Tak ada lagi rutinitas kaku di sini. Terbebas sudah dari gaun Jawa, jejeran tenda, maupun menu yang selalu seragam di semua tempat. Tapi, tetap saja hawa di sini membuat iri. Melihat orang bersalaman, mengikrarkan janji. Lalu, di sisi lain ada sahabatku menunggu. Tegang. Hingga kata itu akhirnya di ucap bersama-sama. Bahagia? Lega? Kata-kata itu masih jauh sebagai penjelasan dibanding melihat wajah mereka secara langsung.
   “Kau, bagaimana, Nad?” Dari samping Faris tiba-tiba bertanya.
   Aku menoleh dengan wajah merah. Sebal. Jangan bilang dia ingin mengeluarkan pertanyaan rutin tiap hajatan ini. Sampai dia bilang. Aku akan langsung pergi, ke belakang mungkin pilihan yang bagus. Capek menanggapi pertanyaan yang tak perlu jawaban seperti itu.
   “Setelah ini kau mau ke mana, Nad?”
   Gelagapan. Salah tingkah. Berarti tadi dia tak bermaksud tanya kapan giliranku menikah? Ah, Tuhan..., cepat emosi sekali aku sekarang ini. “Eh, kalau kau?”
   Toronto bukan tempat yang dekat, dan Faris pernah bicara kalau dia ingin meneruskan belajarnya. Menyebut, bahwa di sana ada orang yang ingin sekali ditemuinya untuk berguru. Tahun ini kesempatan itu datang.
   “Menurutmu bagaimana, Nad?”
   “Maksudmu apa, Ris? Kenapa harus tanya aku? Bukankah itu cita-citamu sejak lama? Kalau tak kau kejar sekarang, bisa jadi kau tak akan pernah bisa mengejarnya. Matahari hanya akan muncul waktu pagi.”
   Dia hanya tersenyum. “Terima kasih, ya, Nad.”
   “Mungkin aku juga harus mengikutimu, Ris. Berkutat di kota ini begitu lamanya, membuatku semakin sesak. Sudah saatnya aku mengepakkan sayap lagi.”

Lantas?

Ayolah bukankah dalam hati ada beribu rasa? bermacam-macam. Lantas kenapa adanya satu rasa itu memforsir porsi otak untuk memikirkannya?

Ayolah bukankah rasa itu adalah salah satu rasa saja? masih ada rasa-rasa lain yang sama. Lantas kenapa rasa itu begitu spesial. Ataukah memang hanya kita saja yang membuatnya spesial?

Teknik Nulis - Hapus, Rombak

Dapet satu teknik baru dalam menulis. Dan teknik ini diawali dengan teknik menulis bebas. Setelah selesai menulis bebas, baca kembali. Akan kau temukan beberapa kata yang nampak ganjil di telinga. Tak enak didengar. Ada kata-kata yang diulang. Nah rumusnya cukup ganti pola kalimat yang memiliki kata yang sama tadi menjadi pola yang lain.

Hapus kata yang tak enak didengar atau sama tadi. Resapi kembali, supaya menjadi tatanan kalimat yang baru dan nyambung.

Kita coba kasih contoh. Ah tapi entar dulu aja deh, masih pusing nih kepala.

#FF Rasi

Cantik, tahukah begitu berat merindumu, hampir saja menghabiskan seluruh energiku. Apalagi sekarang Ramadhan, masih kuatkah aku?

Bibir ini sudah tak bisa lagi bergerak, getir. Senyap, hanya sayup-sayup suara tadarus yang tak begitu jelas terdengar tajwidnya. Detak jam dinding bergerak tampak perlahan, menunjukkan sudah tengah malam. Sejak sepuluh menit yang lalu terus kupandangi atap kamar dengan warna kuning mentari ini, tak tampak warnanya hanya bayang abu-abu, ya mati lampu saat itu. Atapku mayoritas terisi atap kaca. Itu permintaanku beberapa tahun lalu supaya setiap malam dengan jelas bisa kuperhatikan cerah bintang, dan barangkali aku bisa mengenali rasi-rasi itu. Dan sudah pasti malam ini pula kupandangi langit malam dengan rasi bintang yang semakin jelas tergambar di sela-sela selimut kabut. Harapan yang sama setiap malamnya, semoga kau melihatnya juga, melihat pesanku yang tergambar di lembaran langit malam ini, lagi.

Random #Hai

Hai, ketemu lagi ya kita. Sudah lama ya?

Kemana saja kau menghilang? aku mencarimu kemana-mana, lama sekali, kau malah pergi menghilang. Aku putus asa. Dan hari ini apa yang kulihat? Kau tepat didepanku, tepat di intinya, langsung menghujam. Kukira kau telah lenyap, ternyata...

Ah suasana ini, ya sama dengan beberapa tahun silam, nostalgic. Aku marah, marah denganmu, tapi juga denganku yang tak tahu diri. Aku, seperti serigala kelaparan yang butuh daging demi isi perutnya, tak peduli isi perut-perut lain, juga perut mangsa yang akan dibabat. Egois.

Sekarang semua sudah beda. Serigala tak selamanya buruk, karena memang dia ciptaan Tuhan, banyak sisi baiknya. Sekarang, aku merindumu. Namun sekarang, menjauhimu. Karena indah itu tak dikuasai nafsu. Itu yang terbaik, menjauhimu dengan doa.

Operasi Rahasia Pengintipan

Gubrak glethak klempyang...

"Oi oi oi nyantai coy, kaya kucing yang ngeliat preman aja. Kalau mau ngintip itu harus profesional, harus sesuai SOP. Paham gak lu?"

"Oooo... oke-oke."

Sekarang ganti Markolet yang menjadi leader dalam operasi rahasia pengintipan, dia ingin menunjukkan keseniorannya kepada anak didiknya. Agar ilmunya bisa menurun katanya.

Yah tapi ternyata sama saja, walaupun Markolet bertutur tentang SOP teknik mengintip tetap saja grusak-grusuk juga. Malah napasnya sudah ngos-ngosan dulu. Ya namanya juga nafsu, akhirnya ember gedhe melayang ke arah Markolet dan muridnya dengan kecepatan satu per sepuluh kecepatan lari mereka. Apa mau dikata, karena secara perhitungan sudah mustahil menghindar, di-ikhlaskanlah kepala mereka menjadi tumbal. Plethak... eh salah grumbyang...

"Hahaha hujan di mana let tadi? kamu sampai basah kuyup gitu"
"Asem... jangan sok lugu deh ndul, kamu juga ngintip kan tadi diseberang? pake acara bawa teropong lagi"
"Nyahaha itu namanya pengalaman bung, aku kan sudah pernah ketahuan juga. Ya belajar dari pengalaman dong coy."

Dan obrolan mereka bertiga pun berlanjut pada sharing pengalaman serta rapat strategi bagaimana mengintip dengan baik dan benar.

Petuah dari Markolet bahwa semua itu butuh proses, dalam setiap perjalanan dalam proses pasti akan menemukan pengalaman, strategi, hikmah. Ambil langsung, jangan sampai mubadzir coy. Proses itu perlahan, naik setahap demi setahap, maka dari itu sabar dalam menjalaninya sangat perlu, jangan dikalahkan oleh nafsu. Dan yang sangat utama adalah syukur. Syukuri sudah seberapa lama kamu bisa mengintip sebelum digethok pakai gayung, indah bukan? Atau jikalau kau belum berhasil juga namun sudah kena getahnya... SOKOOORR!!!

Kerinduan


kukira menahan rindu itu mudah
kukira menahan cinta itu gampang

Tak kusangka
ketika rindu menggebu
ketika cinta tergali
perih mulai tumbuh
tumbuh beserta segala kerinduan
muncul menyertai cinta yang menanti labuhannya

Tak kusangka
Kekarnya badan ini
Kuatnya otak ini
tetap layu tunduk
dibawah kerinduan yang menggebu


Kisah Sang Pangeran Komik(us)



“Kitab ini akan kujaga, baik fisik maupun batin”

Kerajaan Komikus, dimana wayang dan dongeng menjadi pokok utama. Pokok dalam setiap sendi kehidupan. Tentang ideology, tentang semangat, tentang budi luhur, tentang bakti semua terdefinisi dalam dua hal tersebut. Wayang dan dongeng.

Terletak di kerajaan tersebut seorang Pangeran terlahir kembali setelah pertapaannya yang cukup lama. Mempunyai sebuah misi. Misi yang tertulis dalam kitab suci, selebar daun kelor, setebal itu pula. Kitab suci yang berisi tuntunan hidup. Tuntunan yang hanya dirinya yang bisa membacanya.

Di dalam kitab tersebut tercantum salah satu mantra yang bernama “FLP”. Entah kenapa mantra itu begitu memukau, begitu menggiurkan mata Pangeran. Sehingga salah satu misi Pangeran ini adalah mewujudkan janji yang telah ditunjukkan kitab itu.

Namun jalan untuk memecahkan teka-teki mantra tersebut belum ada satupun yang manjur. Putus asa, Pangeran berjalan menyisir perkampungan, melihat indahnya taman yang masih asri, sekaligus melihat Asri-Asri yang ada di taman. Menyegarkan.

Akan tetapi mata Pangeran yang sebelumnya tak bergerak memandang Asri-Asri di taman, kini seperti diputar secara paksa. Dipaksa oleh kesegaran yang melebihi kesegaran sebelumnya. Terpampang pengumuman terkait “FLP”, Pangeran terpikat.

Ini kunci yang aku butuhkan, mungkin ini kunci mantra itu.
Tak disangka kaki Pangeran terkilir ketika latihan perang, prajurit pun dipanggil untuk mengantarkan sang Pangeran pergi ke tempat yang telah diberitahukan di pengumuman dekat taman kampung, pergi untuk esok hari. Tempat berkumpulnya para kesatria-kesatria tangguh dari berbagai penjuru negeri.

Malam menjelang, Pangeran ingin kehadiranya besok optimal. Pergilah beliau ke sebuah tempat keramat. Tempat favorit Pangeran setiap hari, beliau semedi. Sunyi, senyap, namun sangat ramai sejatinya.

Pagi berkabar. Namun Pangeran belum juga bangkit dari semedi, prajurit pun menunggu sampai sang Pangeran selesai semedi, walaupun itu harus membuat kakinya kram. Karena itu bakti seorang prajurit kepada pimpinannya.

Akhirnya tubuh kekar nan gagah itu terang, bangkit dari semedinya. Dan perjalanan pun langsung dilakukan.

Perjalanan tak berjalan mulus begitu saja. Arak-arakan pasar tumpah mengekor hingga kemana-mana. Jalan buntu. Terpaksa harus memutar haluan, menjauhi kebuntuan-kebuntuan lainnya.

Tibalah Pangeran dan prajurit di depan gerbang tujuan. Gerbang Kerajaan FLP, begitu kiranya. Tampak megah, tampak indah. Paduan merdu yang mengharmonisasi setiap insane untuk terhanyut mengikutinya.
Memang benar apa kata isu-isu itu. Inilah kumpulan para kesatria, kesatria dari segala penjuru dengan kehebatan masing-masing. Akan tetapi. . .

Kemegahan ini masih belum memuaskan” begitu kata Pangeran.

Teka-teki mantra dalam kitabnya masih abu-abu, belum tampak secuil terang sama sekali.

BUMI ITU DATAR BOY


Ini nampaknya perlu dijadikan headline di berbagai media mainstream, bahwa bumi itu bulat yang selama ini kita pelajari mulai dari sd sampai sekarang ini ternyata salah kaprah, BUMI ITU DATAR. Begitu ucap dari komunitas ini, yaitu komunitas yang menyebut dirinya Flat Earth Society.

Mereka menyatakan bahwa bumi itu tidak bulat seperti bola, tetapi bumi itu datar dan berbentuk cakram.  Di tengah bumi adalah kutub utara dan kutub selatan mengelilingi bumi, namun lebih mengherankannya lagi  kutub selatan atau mereka sebut tepi bumi itu dikelilingi tembok-tembok yang sangat tinggi yang dijaga oleh NASA. Para anggota NASA menjaga tepi bumi agar manusia yang melewati sana tidak jatuh dari bumi. AMAZING, dan saatnya mengeluarkan jurus ampuh “WOW”.

Mungkin setelah itu bakal ada teori bumi itu kotak dan kita hidup hanya disatu sisi bumi yang datar. Untuk sisi yang lainnya belum terdefinisi seperti apa. Ahaha

3 Kondisi

Waktu menunjukkan pukul 10 malam, rombongan pun turun dari truk dengan wajah lesu masu. Mungkin sedang mengalami jet lag atau memang itu wajah aslinya. Karena belum sholat ramai-ramai mereka menyerbu musholla kecil di desa itu, walaupun kecil namun alhamdulillah masih cukup untuk menampung rombongan satu truk tadi.

Sebagian langsung wudhu dan masuk masjid untuk segera mendirikan sholat, sebagian leyeh-leyeh untuk menenangkan jet-lag nya, dan sebagian yang lain sedang bermain-main, ya namanya juga anak kecil. 30 menit pun akhirnya berlalu, dan yang leyeh-leyeh tadi pun segera menyusul ambil air wudhu. Namun petaka melanda (lebay ah), air di tempat wudhu sudah kering ternyata, tidak mengalir lagi setelah dihabiskan kloter sebelumnya. Sementara disitu masih ada sekitar 10an orang belum wudhu dan masih dengan wajah kumut-kumutnya karena jet-lag.

Salah satu orang tetap berusaha dengan air yang mengalir walaupun sedikit, dengan waktu yang cukup lama akhirnya selesai juga wudhu mereka. Secepat itupun dia segera menunaikan sholat karena waktu sudah sangat larut tersebut.

Ada juga beberapa orang yang ngomel-ngomel ditengah malam, entah apa yang diomelkan ditengah jet-lag nya itu. Hampir mirip dengan lolongan serigala tengah malam yang kita juga tak tahu apa maksutnya. Dan itu menambah psuing rombongan yang lain yang tengah istirahat dan berusaha istirahat.

Ada lagi beberapa orang yang lain sibuk wira-wiri mencari air, berusaha mencari sumber masalah kenapa airnya mati, ada juga yang mencari sumber air lain. Alhamdulillah salah satu dari mereka, berjarak sekitar 50 meter dari musholla menemukan sumber air lain. Yang lain yang sibuk dengan aktifitasnya tadi berbondong-bondong menyerbu tempat itu, termasuk orang yang dari tadi isinya ngomel terus. Setelah antri mereka akhirnya bisa berjama'ah bersama sebelum istirahat malam.

Ryuki Aiko


           Tempat duduk di tengah, dekat Albert. Itulah yang ada di pikiranku ketika memasuki ruang ujian UAS semester ini. Seperti semester-semester sebelumnya yang membuktikan kalau yang ada disebelahku itu Albert pasti akan membawa keberuntungan, entah itu dibilang keberuntungan atau strategi. Ilmu itupun yang selalu kugunakan di setiap ujian di kampus ini. Dan aku sangat beruntung mempunyai teman sepintar Albert. Selain strategi tersebut, tidak lupa tadi malam aku dan teman-teman berkoordinasi terkait alur koordinasi nanti waktu ujian. Siapa saja yang menjadi sumber, siapa yang membagikan, dan siapa yang bagian mengawasi pengawas. Semua sudah tertata rapi. Memang benar-benar kompak kelas ini. Bermain game saja kelasku selalu yang menjadi juara dalam hal kerjasama, apalagi hanya untuk UAS ini. Ah gampang lah.

Satu persatu squad kelasku hadir dan mulai menempati posisinya masing-masing. Semester ini menurut perkiraanku akan lancar seperti semester yang lalu. Sampai salah satu temanku, namanya Yudi duduk di tempat yang berdekatan dengan pengawas.
“Wah, anak ini bisa buat rencanaku gagal ini. Siapa yang bagian mengalikan perhatian pengawas kalau begini, coba?” gumamku sendiri.
“Ah biarkan saja, toh kita masih ada yang lain di posisi sana” jawab temanku menenangkan.

***

Dan soal ujian mulai dibagikan. Di menit-menit awal kami santai, dalam perhitungan kami di awal kalau pada waktu-waktu seperti ini pengawas akan memberikan perhatiannya secara penuh, dan sumber-sumber kami juga bisa dipastikan belum menemukan jawabannya. Jadi kalau kita melakukan aksi pada menit-menit awal seperti ini tidak akan berbuah hasil yang maksimal dan membuat pengawas lebih memberikan perhatiannya pada menit-menit selanjutnya. Ini bisa berabe kalau sampai terjadi, gagal total sudah segala persiapan kami.

Setelah 30 menit awal berjalan, melihat kondisi yang sudah mulai kondusif. Aku pun memberikan kode bahwa aksi boleh dimulai. Secara halus dan terkonsep sejak awal jawaban berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain, dari bangku satu ke bangku yang lain, dan dari hp satu ke hp yang lain sampai semuanya terdistribusi secara rata kecuali Yudi yang tak pernah mau ikutan dengan cara kita mengerjakan UAS. Dia selalu menjawab sendiri, tak mau diberi contekan dan tak mau mencontek. Walaupun dia sendiri tergolong anak yang tidak terlalu pintar di kelas.

Seiring berjalannya waktu, pengawas memberitahukan bahwa waktu akan habis. Bergantian kami mengumpulkan jawaban agar bisa teracak satu sama lain. Dengan hati lega kami keluar ruangan.

***

Masuk hari kedua ujian kami mulai lebih ketat dalam strategi. Kalau dalam sepakbola ini bagaikan pertandingan derby antara Arsenal dan Chelsea yang cukup menguras keringat, karena mata kuliah ini merupakan mata kuliah yang terberat diantara mata kuliah yang lain pada semester ini. Kami mulai mengatur segalanya, mulai dari siapa yang akan menjadi sumber, sebagai cadangan siapa yang akan membawa resume masing-masing bab-nya, dan persiapan yan lainnya.

Tak berapa lama Yudi masuk dan langsung duduk di tempat yang paling depan.
“Ah, anak ini pasti mencontek juga sekarang. Orang waktu kuliah saja dia lemah di mata kuliah ini. Aku tidak yakin kalau dia seperti kemaren lagi.” Ucapku dalam hati.

Dengan cepat pengawas membagikan soal serta lembar jawab ujian. Dan sekali lagi rencana pun berjalan dengan lancar, walaupun ada sedikit masalah di tengah-tengah, namun keseluruhan bisa dikatakan lancar.

Kenapa setiap ujian tak pernah sekali saja aku tidak memikirkan Yudi. Begitu juga saat itu, rasa benciku tiba-tiba muncul.

“Ih, anak ini. Sok alim banget sih. Nyontek tidak mau, dicontekin juga tidak mau lagi. Emang dia pintar apa? Sok alim banget sih...”
Setiap ujian yang pernah kulihat sekali saja dia tidak pernah memalingkan mukanya. Atau memang dia sedang sakit leher? ejekku dalam hati. Dia selalu kukuh untuk tidak menyontek.

Seperti biasanya ujian hari itu berlalu lancar dengan berbagai strategi kami. Juga hati ini terasa lega dan puas. Karena pasti orang tua tidak akan marah, dan ada yang dibanggakan ketika IPK diatas tiga. Tidak seperti dahulu waktu SMA yang setiap tugas yang diberikan guru selalu tidak bisa dikerjakan, apalagi selalu dimarahi orang tua ketika diajari tidak ada yang masuk ke otak. Pokoknya dahulu penuh tekanan. Beda dengan sekarang yang orang tua tidak akan ikut campur urusan kuliah, yang terpenting hasil bagus.

Hari dimana hasil ujian dibagikan menjadi suatu keasyikan tersendiri bagi kami. Seperti menunggu film terbaru yang akan launching di bioskop. Tak sabar aku menunggu hasil ujian semester ini. Aku yakin semester ini seperti semester sebelumnya akan sempurna. Paling tidak sekitar tiga. Aku yakin itu.

Ketidak sabaranku membuat sel-sel ini ikut terpengaruh, sehingga dengan cepat kubuka lepi yang selalu menemaniku selama kuliah disini, walaupun hanya game dan film yang memuncaki rating tertinggi aplikasi yang sering kubuka. Jari-jari ini menari dengan cekatan bersama tuts-tuts-nya mulai dari membuka rangakaian-rangkaian kode yang kupasang dalam lepi-ku. Masuk kedalam desktop yang berisi shortcut-shortcut game serta beberapa copy-an materi kuliah. Kuarahkan kursor ke browser dan langsung kubuka situs dimana nilai-nilaiku terekam.

Senyum lebar mengembang dari bibirku, menggambarkan kumpulan nilaiku yang sangat indah. A, B, B+ menghiasi sebagian besar hasil kuliahku untuk kesekian kalinya.

Seketika itu aku teringat temanku yang sok alim itu, Yudi. Walaupun ada rasa benci di hati dengan sikapnya yang sok itu, namun dia juga tetap kuanggap teman.

“Bagaimana ya nilainya?Dia kan tidak pernah nyontek di kelas. Kalau sampai bisa bagus sepertiku ini, wah kurang ajar anak ini. ”

Aku sedikit ragu dan kasian dengan nasibnya nanti. Yudi sebernarnya anak yang baik, namun dengan keangkuhannya itu menjadikannya banyak dibenci teman sekelas.

***

Keesokan harinya aku pergi kekampus, walaupun tidak ada kuliah tapi aku ingin melihat bagaimana nasib teman-temanku. Sesampai di kampus langsung kutemui papan pengumuman di jurusanku. Dan pandanganku langsung mengarah pada daftar nilai mahasiswa-mahasiswa matematika 2010. Satu persatu kawan karibku tak lepas dari pengamatan.

“Ah, dasar kurang ajar kau Dib. Padahal kau kemaren banyak diamnya, tapi nilaimu bisa melebihi aku. Pakai dukun mana kau? Hahaha.”

            Sedikit sebal aku dengan Adib yang mempunyai nilai diatasku, padahal dia itu kalau dibandingkan denganku masih pintaran aku.

        Searah dengan jari-jariku mengurutkan nama-nama di papan pengumuman. Kutemukan nama yang tak asing lagi. Dan kuurutkan dengan nilai-nilanya.
            “B, C, D, C, C”
            Nilai-nilai yang kelas low-end tersebut yang terpampang di papan pengumuman. Dengan sedikit angkuhnya aku menghinanya.

            “Dasar sok alim, rasain tuh nilai-nilaimu.”

            Tiba-tiba Si Yudi menepuk dari belakang. Dan dengan santainya menanyakan nilainya kepadaku. Dengan berlagak friendly dia menanyakan itu dengan merangkul pundakku.

“Wah nilaiku pas-pasan lagi ya? Hahaha. Tapi tak apa-apalah yang penting masih sesuai syarat.”

            Dalam hatiku santai sekali anak ini, tidak ada beban sama sekali. Hasil yang seperti tadi dianggap seperti angin lalu, seperti tidak ada apa-apa yang terjadi. Karena penasaran kuselidiki keseharian Yudi dengan sembunyi-sembunyi.

            Mulai dari teman dekatnya satu persatu aku tanyain bagaimana keadaannya saat bersama mereka. Apakah dia anak yang pintar atau bagaimana kesehariannya bisa sampai sesantai itu dengan nilainya? Mereka pun hanya menjawab biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa dari Yudi.

            Kurang puas, kukunjungi rumahnya. Namun hanya bisa kutemui orang tuanya. Kutanyakan pertanyaan yang sama kepada ibunya Yudi. Dan jawabannya pun juga masih memuaskan hatiku.

            “Yudi itu dik, anak yang pendiem. Dan kerjaannya itu banyak didalam kamar.”

            Sumber-sumber yang lain pun juga aku tanya satu persatu. Dan hasilnya sama saja, Dia sama seperti mahasiswa biasa yang lainnya. Tidak ada yang istimewa dari Yudi.

            Karena sangat penasarannya di lain hari kukunjungi Yudi di rumahnya yang kebetulan hari itu hari libur. Ibunya yang sebelumnya pernah bertemu denganku mempersilahkanku masuk dan menyuruh agar langsung menemui Yudi di kamarnya.

            “Eh Mar” 

            Yudi terlihat kaget dengan kedatanganku. Sepertinya aku mengganggu keasyikan dalam menulis. Apakah dia menulis cerita, tugas, atau yang lain aku takterlalu memperhatikannya. 

            “Iya Yud, aku tadi lewat sini. Jadi mampir saja, tidak apa-apa kan?”
            “Eh, aku cuma kaget saja. Silahkan...silahkan... Aku buatkan minum dulu ya?”
            “Tidak usah repot-repot Yud, cuma sebentar kok sepertinya.”
            “Beneran tidak mau? sudah kamu istirahat dulu saja. Cuma sebentar kok.”
            “Hehehe, oke deh.”

            Ketika Yudi pergi, kuperhatikan sekeliling kamarnya. Biasa kebiasaan seseorang kalau melihat sesuatu yang baru, pasti ingin tahu. Begitu juga denganku, mulai tempat belajar, kasur, almari, dan berbagai sisi kamar kuperhatikan satu persatu. Lumayan juga anak ini, kamarnya rapi untuk ukuran kamar cowok. Namun dari semua sisi kamar ada satu sisi yang membuatku bertanya-tanya. Ada kumpulan buku yang banyak sekali dan kesemuanya tertulis nama “Ryuki Aiko”. Siapakah nama itu sampai dia mengoleksinya segitu banyaknya. Padahal nama itu nama yang kurang terkenal.

            Sangat penasarannya diri ini membuatku membaca buku-buku itu. Ini novel? Kok sampai sebanyak ini ya? Novel dari manakah ini? Apakah terjemahan dari Jepang atau asli Indonesia? Semua pertanyaan itu langsung muncul di otakku.

            Waktu Yudi datang kutanyakan perihal novel tersebut kepadanya. Jawabannya sangat singkat. Iya itu koleksiku sejak lama. Ketika kutanyakan ke orang tuanya pun, mereka juga tidak tahu. Mungkin koleksinya dik, kan Dia sering baca novel begitu.

            Setelah obrolan yang lama bersama Yudi aku pun pamit pulang. Sesampai di rumah langsung kucari semua informasi tentang novel itu dan nama Ryuki Aiko. Dan ada salah satu artikel yang mengulang penulis novel itu dan kutemukan fakta bahwa...
            “RYUKI AIKO =  YUDI PRIMAHENDRA”

Filosofi seekor keledai

Saya lupa apakah tulisan ini copas atau bukan. Tapi yang pasti saya pernah membacanya di sebuah buku yang entah sampai sekarang belum ingat kembali, lalu saya tuliskan menurut bahasa saya di sini. Bagi penulisnya saya sangat berterimakasih atas motivasinya. :)

Suatu hari ada seorang gembala yang kehilangan keledainya.

Setelah lama dicari, ternyata keledai itu terjebak di dalam lubang yang dalam.
Pengembala itupun kesusahan mengeluarkannya dari lubang.
Karena sudah hampir malam dan tak bisa mengeluarkan keledai itu,
si pengembala dengan beberapa orang kampung berniat mengubur keledai itu,
agar tidak merasa kesakitan lagi.

Satu persatu mereka menguburkan tanah ke dalam lubang,
Tetapi tak berapa lama munculah sebuah keajaiban.
Keledai itu menggoyang-goyangkan badannya,sehingga tanah di punggungnya pun turun kebawah, dan kemudian keledai itu naik keatas tumpukan tanah tadi. Sekali lagi keledai itu menggoyang badannya dan naik lagi.
Setelah beberapa kali tanah di masukkan akhirnya keledai itu bisa naik ke permukaan dan berlari dengan bahagia.

Begitulah seharusnya kita menyikapi hidup.segala masalah dan cobaan jangan dijadikan beban, tetapi jadikanlah sebagai pijakan kita untuk mencapai kesuksesan yang telah direncanakan.
  





SELAMAT BERJUANG!!! :)


 

Copyright © Mahya. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com